Agen Slot Terbaik - Aku Nikmati Di Perkosa Pembantu Karena Ancaman
Agen Slot Terbaik - Aku Nikmati Di Perkosa Pembantu Karena Ancaman - Cerita pemerkosaan terhadap majikan perempuan ini berawal dari melihat
pembantu yang sedang ngewe didapur. hingga akhirnya aku diperkosa dan
terpaksa kunikmati pembantu menyetubuhiku karena ancaman pembantu akan
membongkar kepada suamiku jika aku membocorkan diri telah melakukan
hubungan perselingkuhan skandal sex dengan pembantu.
Agen Slot Terpercaya - Awal kisah hari itu adalah hari pertama anakku angkatku Toni
bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya
sudah beres aku meminta pak Dani (supir dirumahku) untuk mengantarkan
Toni ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Toni terseyum ke arahku
sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga,
aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Toni sehingga aku
memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur,
tetapi saat aku
melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran
pak jali (pembantu dirumahku) yang sedang melakukan hubungan intim ML
dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik
dengan permainan mereka,
“Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka
terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak
bermoral, memalukan sekali!”
Mereka tanpak terdiam sambil
merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku
melihat penis pak jali yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku
sangat terkejut melihat ukuran penis pak jali yang besar dan berurat,
berbeda sekali dengan suamiku,
“maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak jali masih terdiam,
“Maaf…
kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak jali itu sudah punya
istri kenapa kamu masih juga menggoda pak jali, kamu itu cantik kenapa
tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat
mengingat bi Mar istri dari pak jali, “saya tidak menyangka ternyata
anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa
teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku
menggelengkan kepalaku, sambil menunjuk ke arahnya,
“maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,
“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan pernah menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku
Mendengar
perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangka kalau kelakuan bisa
membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak jali terlihat
tenang-tenang saja malahan pak jali tanpak terseyum sinis,
“he..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak jali tertawa mendengar
perkataanku, perlahan pak jali mendekatiku, “jangan pernah main-main
dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak jali menangkap kedua
tanganku,
“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,”
aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua
tanganku,
“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak jali mengikat kedua tanganku,
Apa
yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak
mau menyerah begitu saja dengan susah payah aku berusaha melepaskan
diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa
berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam
kamar pak jali. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang
tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan
untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.
“kalian
biadab, tidak tau terimakasih ****** kalian!” air mataku tidak dapat
kubendung lagi saat jari-jemari pak jali mulai merabahi pahaku yang
putih,
“ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,
“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini
adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin
lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku,
“tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,
“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku,
“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon
agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan
tidak terjadi, pak jali tanpa semakin buas memainkan diriku
Aku
hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua
payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia
nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,
“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak jali,
sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku
yang mulai mengeras,
“ko’ memiawnya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak,
“wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang
lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas
perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa
saya menyukai pak jali,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku
terasa amat sakit mendengarnya,
“aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah
jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat
jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan
kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,
“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin
terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak jali menjilati leherku
yang jenjang,
Dengan sangat kasarnya pak jali menarik celana dalamku, sehingga
vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku
memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi
dan seksi.
Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di
arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh
sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak jali membuka bibir
vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani,
beberapa kali jari telunjuk pak jali menggesek clitorisku,
“ohk
pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di
perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang
lain bukan suamiku sendiri,
“Ha…ha… malu kenapa Bu? ****** aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu
si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas
mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak jali bertukar posisi
dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak jali berjongkok tepat di
bawa vaginaku,
Dengan sangat lembut pak jali menciumi pahaku kiri
dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas
menyentuh pinggiran vaginaku,
“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga
mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat
rakus pak jali menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani
tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,
“nikmatin aja Bu,
he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya
malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,
Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku
seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya
Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak
jali sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah
tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam
vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas,
“ha…ha… bagaimana Bu, mau
yang lebih enak….” pak jali tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan
kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara
dari mulutku, perlahan pak jali berdiri sambil memposisikan penisnya
tepat di depan vaginaku,
“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala
penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…”
pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di
vaginaku karena ukuran penis pak jali jauh lebih besar dari penis
suamiku,
“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini
melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali
merekam adegan panas yang kulakukan,
Dengan sangat cepat pak jali
menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat
penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,
“oh
yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memiaw Ibu masih sempit sekali walaupun
sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku
tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,
Aku
merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba
mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi
di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku,
selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku
sendiri,
“ayo sayang, bilang kalau tongkol saya enak…” dengan sangat kasar pak jali meremasi kedua payudaraku,
“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,
“ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan
semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang
sangat menjijikan,
“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena
takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku
suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar,
“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak jali berteriak dengan sangat kencang
sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,
“IYA
PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA tongkol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan
sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh
aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya,
Dengan
sangat kasarnya pak jali menarik tubuhku sehingga aku berposisi
menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,
“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,
“pak, saya mohon cepat lakukan,”
“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga
tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku
tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di
mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini
segera berakhir tapi sayangnya pak jali tidak menginginkan itu,
“tenang Bu, santai saja dulu?”
pak jali sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari
kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan
vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin
terlihat membusung ke belakang,
“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan
mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang
sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo…
ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak jali semakin
mempercepat gerakan jarinya,
pak jali dengan rakusnya kembali
menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif
mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami
mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Dani yang baru
pulang dari mengantar Toni,
“Pak Dani tolongin saya…” kataku
berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami,
dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Dani
mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Dani tanpak kaget saat
melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak jali,
“pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,
“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Dani menggelengkan
kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,
“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia
sudah menjadi budaknya saya,” pak jali mulai membujuk pak Dani dan aku
hanya bisa berharap pak Dani tidak memperdulikan tawaran pak jali,
“kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi
“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Dani,
tetapi pak jali tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,
“bapak liat ni, memiawnya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Dani terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya,
“memiawnya
masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak
jali berharap pak Dani mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku,
Akhirnya pak Dani tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya,
“hhmm…
oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini
aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan
pak Dani mendekatiku,
“sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur
telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku
menuduki penis pak jali,
“eennnggkk…. “ aku menggigit bibir
bawahku saat kepala penis pak jali kembali menembus vaginaku, perlahan
penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak jali memeluk
pinggangku agar tidak dapat bergerak,
Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Dani mendekatiku
dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak Dani menamparkan
penisnya ke pantatku,
“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak
saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Dani mulai
berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku
yang memang masih perawan,
“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak jali
mmemanas-manasi pak Dani agar segera membobol anusku, pak Dani yang
mendengar perkataan pak jali menjadi lebih beringas dari sebelumnya,
“AAAAAA….”
aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Dani berhasil
menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin
dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak
Dani mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku,
“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak jali yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,
“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami,
Sudah
beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau
mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami
orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku
sendiri. Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak jali
menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga
pak jali semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam
hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku,
“aahkk…
enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah
puas menodaiku pak jali melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga
dengan pak Dani yang melepaskan penisnya di dalam anusku,
“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Dani sambil menarik wajahku agar
menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat
kaget sekali saat pak Dani memuntahkan spermanya ke arah wajahku,
sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Dani,
Kini aku
benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat
tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas
memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua
kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak jali
terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku,
********
Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Toni yang sedang di
temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali
bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di
pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa
diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin
menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku
mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri,
“hhmm…
gi mana Toni sudah ngerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang
sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau
begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut
dengan teriakan mereka berdua,
Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Dani menarik tanganku,
“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan,
“ssstt… jangan berisik…” kata pak Dani dengan jari telunjuk di bibirnya,
“nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya
lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,
“jangan
main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak
tertutup rapat, tetapi pak Dani tidak kehabisan akal dia balik
mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada
suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut,
“oke, hhmm… kalau begitu
bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak
tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya
dengan permintaanya,
“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas,
setelah
berkata seperti itu pak Dani langsung memelukku dengan erat sehingga
aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,”
perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku
“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya,
Pak Dani yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,
“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu
mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik
rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar
suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,
“Pak ku
mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Dani
menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai,
sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka,
“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana
dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat
kasar pak Dani meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak
tahan untuk tidak mendesah,
“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini
pak,” pak Dani diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Dani
semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari
belakang,
“kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Dani sambil memukul pantatku
“ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”
Pak
Dani seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Dani
menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku
merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah
puas menciumi vaginaku pak Dani memintaku untuk membuka celana dalamku
sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk
melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus
bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada
akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut,
“hhuuu…
mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau
tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi
sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Toni,
“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke
arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Dani yang
langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras,
“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.
“aahkk…
tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar
suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat
ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Dani masih asyik
mempermainkan vaginaku dari belakang,
“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa
yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya
aku masih banyak akal,
“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat
yang di berikan pak Dani kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan
suaraku,
“asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin
memiawnya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku
sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar
perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu
tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali
terdiam,
Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku
mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku
menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,
“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak
Dani, tanpa kusadari pak Dani sudah memposisikan penisnya di depan ibir
vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak Dani
menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku,
“terserah mama saja… papa sama Toni ikut aja,”
“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Toni,
Waktu demi waktu
telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit
liar dan mulai menyukai cara pak Dani memperkosaku walaupun pada awalnya
hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,
“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku,
kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan
pembantuku,
“ohhk… memiaw istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja
Beberapa
menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami
berdua, setelah merasa puas aku dan pak Dani kembali merapikan pakaian
kami masing-masing, sebelum pak Dani pergi meninggalkanku sempat
terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya.
Setelah
membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku,
mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa
minuman dan makanan kecil,
“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil
meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Toni
untuk belajar,
“makasi mama…” kata Toni yang langsung saja
menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat
Toni hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan,
Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan
mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,
“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Toni yang sedang menulis,
suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau
hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,
“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari
kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa
memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,
“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku,
Setelah yakin Toni tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya
semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus
mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku
tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis
bercinta.
Lama lama kunikmati juga di perkosa pembantu, Hampir
tiap hari aku merengkuh kenikmatan bersama para pembantuku, kenikmatan
yang tidak aku dapatkan dari suamiku yang membuat aku semakin liar dalam
berhubungan ranjang menjadi skandal perselingkuhanku.
Untuk Melihat Video Selengkapnya Klik Dibawah Ini :


Comments
Post a Comment