Agen Slot Terpercaya - Kisah Nyata Istri Tetangga Yang Butuh Kepuasan
Agen Slot Terpercaya - Kisah Nyata Istri Tetangga Yang Butuh Kepuasan - Sekitar satu bulan yang lalu tepatnya di hari minggu sekitar jam 5.00
subuh Aku keluar rumah untuk olah raga atau berlari subuh sebagaimana
yang kulakukan setiap hari minggu subuh. Namun, kali ini lari subuh yang
kulakukan sangat bermakna, sebab aku ditemani oleh seorang tetangga
dekat. Sebut saja namanya “Dina”.
Agen Slot Terbaik - Dia adalah Suami sah orang lain yang sudah memiliki 2 orang anak,
tapi penampilannya masih cukup menarik. Kulitnya mulus, putih dan
tubuhnya langsing. oia, Kenalkan nama saya Rano. Usia 38 tahun, tinggi
150 cm dan berat badan 60 kg, warna kulit coklat kehitaman serta rambut
lurus.
Ketika aku keluar melewati pintu pagar, secara samar-samar
aku melihat sesosok tubuh dengan kaos warna hitam melekat di tubuhnya
serta celana setengah panjang tergantung di atas lututnya membuka pintu
rumahnya lalu mengikutiku.
Aku tetap saja jalan agak cepat dan
berpura-pura tidak memperhatikannya, tapi saat aku memasuki sebuah
lorong, iapun semakin dekat di belakangku. Aku sangat yakin kalau Dina
sengaja mengejarku untuk berlari subuh bersama.
“Pak, tunggu Pak”
panggilnya dari belakang, tapi aku tetap berlari, tapi sengaja kukurangi
kecepatannya agar ia bisa lebih dekat denganku.
“Pak, tunggu donk Pak, aku capek nih, kita sama-sama aja” teriaknya dengan suara yang tidak terlalu keras.
Setelah
kudengar nafasnya terengah-engah karena jaraknya sudah semakin dekat
denganku, mungkin sekitar 10 meter di belakangku, aku lalu berhenti
menunggunya, sebab kedengarannya ia capek sekali.
“Ada apa Bu, kenapa ibu mengejarku?” tanyaku sambil berhenti.
“Tidak
ada apa-apa. Aku hanya mengejar bapak agar kita bisa lari bersama, biar
lebih santai dan kita bisa sambil ngobrol” katanya dengan nafas
terputus-putus karena kecapean.
Setelah Dina berada di samping
kiriku, kami lalu lari bersama, tapi kali ini tidak terlalu kencang,
bahkan terkesan lari-lari kecil, yang penting tubuh kami bisa
bergerak-gerak sehingga terkesan berolahraga pagi.
“Ngomong-omong, apa ibu juga secara rutin lari subuh setiap hari minggu?” tanyaku pada Dina sambil berlari kecil.
“Nggak
kok, cuma kebetulan kudengar pintu rumah bapak terbuka dan kulihat
bapak keluar berpakaian olah raga, sehingga tiba-tiba aku juga tertarik
untuk menyegarkan tubuh dan menghirup udara subuh” jawabnya.
“Kenapa Nggak sekalian keluar sama suami ibu atau anak-anak ibu?” tanyaku lagi sambil tetap berlari.
“Anu
Pak, suami saya itu baru saja pulang dari jaga malam, maklum kerjaan
satpam jarang sekali bermalam di rumah” jawabnya santai.
Kebetulan
suami Dina tugas malam sebagai satpam pada salah satu perusahaan swasta
di kota kami. Mendengar ucapan Dina itu, aku jadi terpancing untuk
bertanya lebih jauh tentang kehidupan rumah tangganya. Apalagi kami
sudah sering bicara humor.
Aku sangat paham kalau Dina orangnya
terbuka, lugu dan sedikit genit. Aku merasa berpeluang besar untuk
bertanya lebih banyak padanya soal hubungannya dengan suaminya.
“Maaf
Bu, kalau aku terlalu jauh bertanya. Jadi kedua anak ibu itu dicetak
pada siang hari semua donk, sebab suami ibu jarang berada di rumah pada
malam hari,” kata saya pada Dina, namun ia tetap tidak tersinggung,
bahkan nampaknya ia tetap bersikap biasa-biasa saja.
“Bukan pada
siang hari Pak, tapi pada subuh dan pagi hari, sebab biasanya suami saya
pulang pada subuh hari dan langsung saja mengambil jatah malamnya,
apalagi dalam keadaan ia haus,” katanya santai.
Setelah capek,
kami beristirahat sejenak di atas jembatan sambil bersandar di pagar
besi jembatan. Kebetulan di atas jembatan itu, banyak orang sedang
ngobrol dan membahas masalahnya masing-masing.
“Bu Din, kalau
begitu waktu anda berhubungan dengan suami anda selalu singkat dan
dilakukan secara terburu-buru, sebab anak-anak anda sudah mulai bangun,
lagi pula suami anda sangat ngantuk” pancingku padanya.
“Yah
begitulah kebiasaan kami, lalu mau apa lagi jika memang waktunya yang
paling tepat hanya saat itu. Sebab di siang hari, anak-anak kami pada
berkeliaran dalam rumah dan tamu-tamupun yang datang harus disambut”
katanya serius, tapi tetap santai.
“Kalau begitu anda tidak pernah menikmati hubungan suami istri yang sebenarnya sebagaimana layaknya suami istri” pancingku lagi.
“Kenapa
tidak, kami merasa sama-sama menikmatinya. Buktinya kami punya dua
orang anak” katanya serius sekali sambil memandangiku.
Tanpa
berhenti bicara, kami lalu berjalan lagi memutar ke jalan menuju rumah
kami kembali. Aku coba memikirkan apa lagi yang dapat kutanyakan pada
Dina mengenai hubungannya dengan suaminya.
Ini kesempatan emas
bagiku untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang kehidupannya di atas
ranjang bersama suami, sebab aku berniat membuat ia penasaran agar
merasa membutuhkan sex lebih dari yang didapatkan dari suaminya. Aku
sebenarnya ingin merangsang dia agar mau melakukan bersama denganku.
“Bu
Din, sex itu sebenarnya melebihi dari apa yang anda lakukan bersama
suami anda. Suami-Istri harus menikmati kepuasan berkali-kali minimal
selama 3 jam tanpa sedikitpun rasa tergesa-gesa dan takut. Menerapkan
berbagai macam gaya dan posisi. Anda tentu tidak sempat menikmati semua
itu khan?” jelas saya pada Dina panjang lebar.
“Oh yah, tapi bagaimana caranya jika suamiku tidak memungkinkan melakukan hal itu atau tidak mau melakukannya?” tanyanya serius.
Nafas
Dina sangat keras kedengaran ketika ia selesai menanyakan hal itu,
bahkan sempat memandangiku dengan penuh harap dan bergairah.
“Sekiranya
ada orang lain yang bersedia memberikan kenikmatan itu pada Ibu Dina,
apa ibu tidak keberatan menerimanya?” tanyaku lebih berani.
“Orang lain siapa misalnya?” tanyanya sambil berhenti.
“Sa.. Sa.. Saya misalnya. Maaf ini hanya sekedar misal Bu” jelasku sedikit khawatir kalau-kalau ia tersinggung dan memarahiku.
“Be.. Betulkah ucapan bapak itu? Mana bapak mau sama saya” ucapannya.
“Boleh
saja terjadi jika memang hal itu sama-sama dibutuhkan, apalagi terhadap
wanita cantik lagi muda seperti ibu Dina ini” ucapku sambil tersenyum
memandangi wajah ibu Dina yang bertubuh langsing itu.
“Ha.. Ha.. Ha, bisa aja bapak ini. Gombal ni yee” katanya terbahak.
“Betul Bu. Aku serius. Aku tidak main-main nih..” kataku tegas.
Mendengar
ketegasanku itu, Ibu Dina tersentak kaget dan tiba-tiba meraih tanganku
lalu mengajakku berhenti di pinggir jalan. Sambil kami berhadap-hadapan
dengan jarah sekitar 2 jengkal. Dina lalu berkata:
“Bila ucapan
bapak itu benar dan serius, akupun serius dan bersedia. Tapi bagaimana
caranya Pak agar perbuatan kita lebih aman?” tanyanya.
“Suamimu biasanya bangunnya jam berapa?” tanyaku lebih mengarah lagi.
“Biasanya jam 11.00 atau 12.00 siang” jawabnya serius sekali.
“Kebetulan
sekali istri dan anak-anakku mau pulang kampung membesuk keluarga.
Mungkin jam 5.00 sore baru balik. Bagaimana kalau ibu bilang sama
anak-anaknya bahwa ibu mau ke pasar, lalu ibu masuk ke rumahku?”
tawaranku lebih lanjut.
“Oke, tunggu saja Pak. Sebentar aku akan masuk dari pintu belakang rumah bapak biar tidak ada yang melihatku” katanya berbisik.
Setelah
kami sepakat, kami lalu berpisah dan lewat jalan yang berbeda agar
tetangga tidak curiga pada kami, apalagi sudah jam 6.30 menit.
Hanya
sekitar 5 menit setelah aku masuk ke rumah, pintu belakang rumah
kelihatan terbuka dengan pelan. Ternyata Ibu Dina menepati janjinya. Ia
masuk dengan pelan tanpa mengganti pakaian yang dipakainya tadi. Hanya
saja bau tubuhya terasa lebih harum menyengat di hidungku.
“Bu, adakah yang melihat ibu ke sini?” tanyaku setelah aku menutup dan mengunci pintu depan dan belakang.
“Tidak
ada Pak. Suamiku masih tertidur nyenyak dan anak-anakku lagi main di
luar dengan teman-temannya. Aku mengunci pintu dari luar” katanya sambil
jalan menuju tempat tidurku.
Setelah kami duduk berdampingan di
pinggir tempat tidur, kami sempat bertatapan muka tanpa sepatah katapun
sejenak. Namun, karena kami sudah saling penasaran dan saling terbakar
nafsu, maka kami lalu segera berbalik arah sehingga kami saling
berhadap-hadapan dengan jarak yang dekat sekali. Karena dekatnya, maka
nafas Dina terasa menyapu hidungku yang membuat aku sedikit gemetar.
“Ayo Bu kita mulai permainannya” pintaku sambil kuulurkan kedua tanganku untuk meraih kedua tangannya.
“Terserah bapaklah. Aku turuti saja kemauan bapak” katanya sambil menatap wajahku.
Mula-mula
aku menyentuh kedua tangannya, lalu naik ke lengan, bahu, leher, pipi
dan telinganya sampai mengelus-elus rambut dan dagunya. Dina hanya diam
menerima perlakuanku. Namun setelah kedua tanganku merangkul punggungnya
dan mencium pipi dan bibirnya, iapun mulai bergerak membalasnya,
sehingga kami saling berpagutan dan mengisap.
“Boleh saya masukkan
tanganku Bu?” tanyaku sambil menyelusupkan kedua tanganku masuk di
balik kaos yang dipakainya dan secara perlahan menembus masuk di balik
BH tipis yang dikenakannya. Dina hanya mengangguk sambil merangkulku
dengan keras dan merapatkan tubhnya di tubhku, sehingga terasa hangatnya
di dadaku.
“Boleh kubuka pakaiannya Bu?” tanyaku lagi setelah puas memainkan kedua payudaranya dari dalam pakaiannya.
Ia
lagi-lagi hanya mengangguk dan melonggarkan rangkulannya guna
memudahkan aku melucuti pakaiannya. Setelah kaos dan BH yang
dikenakannya semuanya terlepas dari tubuhnya, aku sejenak melepaskan
rangkulan dan pagutan untuk memperhatikan indahnya bentuk tubuhnya yang
telanjang, terutama kedua payudaranya yang tergantung di dadanya.
Aku
sempat terperangah ketika menyaksikan kedua payudaranya yang sangat
putih dan mulus, bahkan ukurannya cukup sederhana dan masih keras
seperti belum pernah terjamah saja. Maklum kedua anaknya tidak pernah
menetekinya, sebab keduanya sejak lahir memang dibiasakan meminum air
susu kaleng dengan botol.
Setelah puas memandanginya, aku segera
meraih kedua bukit kembarnya dan menyerangnya secara bergantian dengan
mulutku. Kuhisap putingnya berkali-kali agar ia cepat terangsang. Dina
hanya bergelinjang dan berdesis.
“Aduh, cepat buka Pak, aku sudah
tidak tahan nih. Ayo Pak” pintanya berkali-kali, namun aku sengaja tidak
peduli ucapannya. Bahkan aku semakin mempercepat isapanku pada
teteknya, lehernya, pusarnya dan seluruh tubuh telanjangnya.
“Ayo donk Pak, buka cepat pakaiannya, aku sudah tak tahan” pintanya lagi.
Kali
ini kubuka bajuku lalu celana panjang yang kupakai berlari tadi.
Setelah tersisa hanya celana kolorku saja, aku lalu menurunkan celana
setengah panjang yang dikenakannya, sehingga kami sama-sama setengah
bugil.
Kami saling berpelukan dan bergulingan di atas kasur sambil
saling meraba seluruh tubuh. Setelah itu aku mengangkanginya, lalu
menelanjanginya setelah menelanjangi diriku. Kini kami sudah sama-sama
bugil tanpa sehelain benangpun menutupi tubuh kami.
“Pak, ayo dong
Pak. Masukkan cepat, aku sudah ingin sekali menikmatinya biar cepat
selesai” bisiknya sambil menarik tubuhku lebih dekat ke arah
kemaluannya.
Aku patuhi permintaannya. Aku dengan mudah membuka
kedua pahanya, sehingga nampak jelas kelentitnya yang mungil berwarna
merah jambu muda. Terasa sedikit basah oleh cairan pelicin yang keluar
dari sela-sela vaginanya. Bulu-bulu yang tumbuh di sekitarnya cukup
tipis dan rapi seolah terawat dengan baik.
“Tahan donk sayang,
waktu kita masih panjang. Lagi pula kan aku akan tunjukkan semua
permainanku yang belum pernah ibu rasakan” pintaku sambil meraba-raba
dan sesekali menusuk-nusuk dengan telunjuk pada lubang yang sedikit
menganga di antara kedua pahanya itu.
“Boleh kucium dan kujilat inimu Bu?” tanyaku sambil mendekatkan kepalaku ke selangkangannya.
“Terserah dech, tapi jangan lama-lama, sebab aku semakin tak tahan lagi” katanya pasrah.
Dina
bergelinjang kuat. Pantatnya terangkat-angkat ketika aku
menusuk-nusukkan lidahku ke lubang kemaluannya, apalagi saat aku
menggigit-gigit kecil kelentitnya yang agak keras dan kenyal itu. Ia
semakin berdesis dan setengah berteriak akibat perlauanku yang
mengasyikkan itu. Ia sangat menikmatinya, bahkan menekan kepalaku lebih
dalam lagi.
“Boleh kumasukkan sekarang Bu?” tanyaku meski aku yakin ia sangat mendambakannya dari tadi.
Secara
berlahan tapi pasti, ujung kontolku mulai menyentuh kelentitnya lalu
bergeser mencari lubangnya. Setelah ketemu, sedikit demi sedikit mulai
menyelusup masuk. Bahkan ketika masuk separoh, aku berniat berlama-lama
disiti, tapi dasar wanita yang sudah sangat penasaran, maka ia segera
menarik punggungku dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya, sehingga
kontolku amblas seluruhnya tanpa bisa lagi kukendalikan.
“Aahhkkhh..
Uukk.. Hhmm.. Eeanaakk.. Sesekaali. Teerus Pak, ayoo.. Gocokk.. Llrr..
Hh.. Aauuhh” itulah suara yang sempat dikeluarkan dari mulut Dina ketika
gocokan kontolku semakin keras dan cepat. Ia bagaikan orang kehausan
yang menemukan air minum. Diteguknya keras-keras dan napasnya seolah
terputus sejenak menahan rasa kenikmatan yang kuberikan.
Tanpa
bicara lagi, Dina langsung memutar tubuhnya, sehingga ia berada di atas
mengangkangiku. Ia bagaikan orang naik kuda. Bunyi pantatnya sangat
keras beradu dengan perutku, karena ia duduk di atasku sambil
membelakangi wajahku.
“Akkhh.. Uuhh.. Uuhh.. Aakkhh..”
Suara
itulah yang sempat keluar dari mulutku ketika kurasakan nikmatnya
vagina Dina yang menjepit kemaluanku. Ia seolah tak kenal lelah dan tak
mau berhenti melompat di atasku.
“Akkhh.. Buu.. Buu..’ berhenti
dulu donk. Kita istirahat dulu. Aku kecapean nih” teriakku ketika
kurasakan ada cairan hangat yang mulai mau menyelusup keluar di ujung
perutku. Tapi Dina tetap saja bergerak dan bergoyang pinggul di atasku
tanpa peduli ucapanku. Karena ia tak mau berhenti, aku segera bangkit
dan berlutut sehingga ia secara otomatis nungging di depanku.
Aku
langsung hantam dari belakang dan menggocok keras serta cepat hingga
terasa cairan hangatku sudah berada di ujung penisku. Aku sudah tidak
peduli di mana mau tumpah, apa di luar atau di dalam kemaluan Dina. Yang
penting puas.
“Pak, cepat donk, terus gocok dengan keras, ayohh.. Uuhh.. Aahh.. Uummhh.. Auhh” kata Dina terputus-putus.
Sedetik kemudian, Dina berteriak sedikit keras:
“Aiihh..
Aakuu.. Kkeeluuaarr.. Paa” dan saat itu pula aku tak mampu
mengendalikan diri, sehingga cairan hangatkupun tumpah ke dalam rahim
Dina. Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. Kami saling memberi
kenikmatan yang luar biasa. Pertemuan kemaluan kami terasa sangat rapat
dan seolah melekat, sehingga terasa gemetar seluruh tubuh kami. Dina
langsung telungkup dan merapatkan perutnya ke kasur, sementara aku tetap
menindihnya. Setelah hampir 2 menit kami tidak bergerak, akhirnya kami
saling telentang puas.
Namun, tiba-tiba muncul rasa ketakutan dalam hati saya kalau-kalau Dina hamil akibat cairan kentalku masuk ke rahimnya.
“Pak,
terima kasih atas kenikmatan yang kau berikan. Aku sama sekali baru
kali ini merasakannya. Ternyata selama ini aku belum pernah merasakan
kepuasan dan menikmati sex yang sebenarnya dari suami saya. Kepuasan
yang kuterima dari suami saya selama ini hanyalah semu dan..” belum
selesai bicara, aku segera memotongnya dan berkata:
“Maaf Bu bila
kenikmatan yang sempat kuberikan masih sedikit, sebab sedianya aku akan
memberikan sebanyak mungkin, tapi lain kali saja, sebab aku capek
sekali. Habis kita baru saja lari subuh” balasku.
Setelah itu,
kami saling berpelukan dan memberi ciuman perpisahan, lalu kami bangkit
menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Di dalam kamar kami saling
berbisik karena takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan kami.
Setelah
kami berpakaian lengkap seperti semula, aku lalu membuka pintu belakang
rumahku dan memeriksa kalau-kalau ada orang lain yang lalu lalang dan
mencurigakan, tapi ternyata sepi. Aku masih mau tahan agar Dina
istirahat sejenak untuk melanjutkan ronde berikutnya, tapi tiba-tiba
Dina melihat jam tangannya lalu segera pamit keluar karena katanya sudah
pukul 10.10 menit siang. Suaminya sudah hampir bangun. Iapun
cepat-cepat kembali ke rumahnya.
Besoknya kami sempat ketemu
seperti layaknya tetangga dan kami pura-pura bersikap biasa-biasa saja,
namun hari minggu berikutnya, kamipun kembali berlari subuh bersama,
tapi kami hanya sepakat untuk mengulangi persetubuhan kalau ada
kesempatan kapan-kapan saja. Aku menjanjikan tip yang lebih nikmat lagi,
dan iapun setuju.
Posted By : www.ubcbet.net


Comments
Post a Comment