Bandar Slot Online - Nikmatnya Ngentot Bibi Ketika Paman Pergi
Bandar Slot Online - Nikmatnya Ngentot Bibi Ketika Paman Pergi - Aku dibesarkan di sebuah desa yang boleh dibilang tidak begitu ramai.
Akan tetapi karena nenek memiliki anak yang lumayan banyak, sehingga
keadaan di rumah kami sedikit berbeda dengan tetangga yang lain. Aku
sendiri sebenarnya hanya anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku
perempuan, terpaut beda sekitar lima tahun denganku.
Bandar Slot Terbaik - Keadaan keluargaku sedikit kurang beruntung dibanding saudara-saudara
ibu yang lain, ayahku hanya seorang pekerja serabutan, sedang ibuku
sesekali menjadi tukang cuci. Oleh sebab itu, sejak kecil kami telah
banyak ditolong oleh saudara-saudara ibu yang lain. Kakakku sendiri
sejak kecil sudah tinggal bersama kakak perempuan ibuku yang paling
besar. Meski saudara-saudara ibu sudah mempunyai rumah sendiri, tetapi
jarak yang tak begitu jauh, menjadikan anak-anak mereka lebih sering
tinggal di rumah nenek.
Aku sendiri tinggal bersama nenek.
Diantara semua cucu nenek, aku termasuk anak yang sedikit kurang pintar,
atau dengan kata lain: bodoh dan polos. Sehari-hari, sudah menjadi
makananku, jika aku menjadi bahan ledekan atau jahilan dari
saudara-saudaraku. Meski begitu, aku tidak pernah merasa sakit hati.
Diantara semua saudara ibu, aku paling dekat dengan pamanku, adik ibu
paling kecil. Beliau merupakan paman yang baik. Sebenarnya paman
menyayangi semua keponakan, tapi perasaanku mengatakan, aku jauh lebih
disukai dibanding anak-anak lain. Terbukti jika paman memberi uang, aku
selalu mendapat lebih.
Pernah suatu kali, aku tidak naik kelas.
Ketika semua mencemooh, pamanlah yang berusaha menenangkan hatiku. Kata
paman, tidak semua orang pintar di pelajaran. Mungkin unggul di hal
lain, seperti aku, kata paman. Sifatku lebih baik dibanding keponakan
lain. Aku orangnya jujur, begitu kata paman. Itu lebih penting dibanding
pintar tapi gak baik.
Paman sendiri bekerja di luar kota,
biasanya sabtu minggu baru pulang. Saat usiaku 9 tahun, paman akhirnya
menikah, dengan seorang wanita yang usianya 8 tahun lebih muda dari
paman. Saat menikah, paman sudah berusia sekitar 34 tahun. Dan ternyata,
paman menikahi seorang wanita yang baik juga di mataku. Menurutku paman
sangat beruntung.
Awalnya, satu tahun pertama pernikahan, mereka
tinggal bersama kami, di rumah nenek. Tapi kemudian mereka pindah,
walaupun rumahnya tidak begitu jauh, hanya 15 menit jika menggunakan
sepeda dari rumah nenek. Menjelang tahun ketiga pernikahan mereka,
pekerjaan paman mengharuskan paman sering berkeliling ke kota-kota
besar, hingga kadang baru dua minggu bahkan sebulan, paman baru pulang.
Entahlah,
karena mungkin ketidakhadiran momongan yang tak kunjung datang, membuat
mereka jauh lebih memperhatikanku. Bahkan secara terus terang, paman
bilang ke ibuku: untuk biaya sekolah, orang tuaku tak perlu kuatir.
Memang, sejak menginjakkan kaki di bangku sekolah, pamanlah yang banyak
membantuku. Hingga akhirnya, permintaan paman untuk menemani bibi jika
dia tidak ada, tidak bisa aku tolak. Begitu juga dengan kedua orang
tuaku, mereka malah kelihatan jauh lebih bahagia dibanding aku.
Lama-kelamaan,
hubunganku dengan bibiku makin terjalin erat. Bahkan akhirnya sejak
masuk SMP, aku memutuskan untuk tinggal dengan mereka sepenuhnya. Tak
jarang, bibi selalu tertawa melihat tingkahku, atau mungkin kebodohanku.
Dari aku juga, bibi kadang sering berusaha mengorek masa lalu paman,
terutama mengenai gadis-gadis di kampung yang pernah dekat dengan paman.
Jika keponakan lain kebanyakan berusaha memberi kesan bagus untuk
paman, aku sendiri bicara apa adanya, karena paman yang menyuruhku.
“Gak apa-apa, bilang aja semuanya, toh masa lalu sudah lama berlalu.” katanya waktu itu.
Ya,
sebenarnya pamanku termasuk orang lumayan juga, pacarnya bahkan banyak.
Kata ibuku, sejak SMP, paman memang banyak disukai orang, terutama
teman-teman wanitanya. Kata ibu, paman sepenarnya tidak pintar, tapi dia
sangat rajin. Kepolosanku lah yang mungkin membuat bibi senang juga
terhadapku.
Sejak pindah, perhatian bibi kurasa semakin besar.
Bukan hanya perhatian sekolah, tapi kasih sayangnya kurasakan besar
pula. Tak jarang dia mengusap kepala dan menbelai pundakku jika aku
melakukan hal bodoh atau menjadi ledekan orang lain. Mungkin hanya
badanku yang besar, tapi perkembangan tingkahku agak telat. Aku malah
lebih sering main dengan anak-anak SD dibanding teman sebaya.
***
Suatu
hari, saat sedang asyik nonton TV bertiga, tiba-tiba paman bertanya
kepadaku. “Kamu sudah pernah lihat bokep ya? Andi yang bilang.” Andi
adalah nama tetangga depan rumahku.
Aku mengangguk. ”Tapi dia juga pernah.” kataku membela diri.
“Kamu lihat di mana?” tanya paman.
“Dulu sih, waktu SD, di rumahnya kang Rosyid.” kataku.
“Kalau Andi?” tanya paman lagi.
”Gak ah, paman. Aku sudah janji gak bilang, pokoknya masih di tetangga lihatnya.” jawabku.
Mata
paman mendelik, tapi kemudian dia berkata, ”Ya sudah,” dia tersenyum.
”Paman mau tidur dulu. Kamu jangan sering-sering nonton bokep, gak baik
buat pertumbuhanmu.” paman mengingatkan.
Ketika paman sudah pergi,
ganti bibi yang menanyaiku. “Emang Andi nonton di rumah siapa? Pasti
Ical ya, memang nakal kan dia?” kata bibi.
“Aku sudah janji gak bilang, Bi.” kataku.
Bibi tersenyum. ”Ngomong-ngomong, kamu sudah mimpi belum?” tanyanya.
Aku mengangguk.
”Sejak kapan?” dia bertanya lagi.
”Akhir SD, Bi.” jawabku.
“Wah, belum lama juga.” katanya.
”Emang kenapa, Bi?” tanyaku.
“Gak apa-apa. Hati-hati aja kalau bergaul, dan jangan sering nonton yang gitu-gitu. Bener kata pamanmu.” katanya.
“Baru dua kali kok, Bi.” jawabku tanpa dosa.
Bibi tersenyum dan mengusap rambutku.
***
Dan akhirnya, dua minggu setelah kejadian itu…
Aku
ingat betul, paman baru pulang malam itu saat aku sudah terlelap. Tapi
udara yang begitu dingin membuatku terbangun dan ingin ke belakang.
Namun niatku membuka pintu aku batalkan, karena kudengar suara desah
seseorang di ruang TV yang tak begitu jauh dari kamarku. Akhirnya rasa
penasaran membawaku mendekati jendela dan berusaha mengintip. Untung
kamarku selalu aku matikan lampunya jika tidur, jadi dari dalam, aku
leluasa bergerak.
Jantungku deg-degan saat kulihat TV menyala dan
adegan mesum telah diputar disana, sementara di bangku panjang yang
menghadap TV, kulihat paman telah melakukan sesuatu. Aku tahu dia sedang
apa, walaupun badan bibi tertutup sandaran kursi panjang, dan hanya
ujung kepalanya yang terlihat di pinggiran kursi, tapi melihat posisi
paman yang duduk di hadapannya, dengan bagian atas tanpa penutup, aku
tahu dia sedang menggauli bibi.
Paman sepertinya lebih konsentrasi
dengan bibi daripada adegan di TV. Sesaat kulihat paman menengadahkan
kepalanya sambil bersuara ahh… terdengar sangat lega. Kemudian dia
berjalan mendekati meja dan mengambil remote, dan benar dugaanku, dia
tidak berpakaian sama sekali. Kontolnya tampak basah dan mulai
mengkerut. Dia sudah berhasil croot di dalam memek bibi.
Itu
pertama kalinya aku melihat adegan paman dan bibi. Terus terang, aku
terangsang. Kontolku ngaceng tak terkendali. Masih sambil menatap tubuh
bugil bibi yang tidak begitu jelas, aku onani. Kukeluarkan pejuhku di
lantai kamar, selanjutnya kulap dengan celana dalamku yang kotor. Malam
itu aku tidur nyenyak sekali. Badan rasanya enteng dan nikmat.
***
Esok
harinya, saat paman pergi kerja, aku pura-pura merapikan TV karena
kutahu, ada kaset tergeletak di atasnya. Saat bibi lewat di depanku mau
belanja ke pasar, segera kutegur dia. “Bi, kata paman nggak boleh
sering-sering lihat bokep, trus ini apa?” kuperlihatkan dua kaset
bergambar tak senonoh di tanganku.
“Ah, pamanmu kan sudah menikah.” kilahnya.
“Pantes semalam ribut,” kataku menyindir.
“Lho, kok kamu tahu, ngintip ya?” bibi menuduh.
“Gak, aku mau pipis. Tapi gak jadi gara-gara lihat paman dan bibi.” kataku terus terang.
“Kamu
ini, badan kamu aja yang gede, tapi masih oon.” kata bibi. Dia memang
kadang meledekku begitu. “Ya sudah, jangan ceritain sama siapa-siapa apa
yang kamu lihat tadi malam ya. Bibi nanti malu.” tambahnya kemudian.
Aku mengangguk.
Setelah
sekali lagi menyakinkanku, bibi akhirnya tersenyum. Ya, dia memang
tahu, aku akan merahasiakan apapun jika aku diminta. Dan bibi memang
sangat mempercayaiku.
“Bi, aku boleh lihat gak? Mumpung paman gak ada.” kataku penasaran.
“Jangan ah, nanti ketahuan orang.” katanya.
“Gak bilang siapa-siapa kok, ke paman juga gak kan bilang.” kataku meyakinkan.
Bibi tampak berpikir, lalu. “Bentar aja ya, keburu paman kamu pulang.” katanya.
Akhirnya,
hanya sekitar 10 menit aku melihat, sebelum bibi mematikan dan membawa
kaset itu ke dalam kamar. Aku sempat agak ngambek, tapi kemudian
tersenyum saat bibi meraba burungku. “Tuh kan, aku bilang juga apa. Gak
baik lihat ginian, jadi tegang deh burung kamu.“ katanya.
“Biarin
aja, nanti juga tidur lagi.” sahutku cuek. Bibi masih memegang dan
mengelus-elus burungku dari luar celana. Enak sekali rasanya. Geli-geli
gimana gitu.
“Kamu sudah pernah onani?” tanyanya.
Aku mengangguk, ”Cuma sekali, Bi. Gak lagi deh, perih. Kencing jadi sakit.” kataku berbohong.
“Emang
kamu make apaan?” tanya bibi lagi. Tangannya masih tetap asyik
mempermainkan burungku yang sekarang sudah semakin keras dan menegang.
“Aku gosok pake sabun, temanku bilang gitu.” jawabku.
Bibi
hanya tertawa, tapi kemudian kami diam karena kudengar pintu diketuk.
Paman sudah pulang. Bibi segera menarik tangannya dan berlari untuk
membukakan pintu. Sedangkan aku, dengan sedikit dongkol pergi ke kamar
dan onani disana.
***
Sejak itu, ketika paman pergi kerja,
aku jadi lebih dekat dengan bibi. Aku selalu menanyakan koleksi terbaru
paman pada bibi, dan menontonnya bersama bibi. Tentu saja tanpa
sepengetahuan paman.
Hubunganku dengan bibi pun makin tak canggung
lagi. Sambil nonton, bibi selalu mengelus-elus kontolku. Saking
enaknya, sering aku sampai muncrat di celana. Oh ya, bibi tidak pernah
menyentuh langsung burungku. Dia cuma memegangnya dari luar celana.
Meski aku sudah sering meminta, bibi tidak pernah mengabulkannya. ”Gini
aja sudah enak kan?” kilahnya setiap kali aku memaksa. Dan memang enak
banget, jadi aku pun diam. Kunikmati saja segala sentuhannya.
Kalau
bibi sudah berani berbuat sejauh itu, aku malah tidak berani sama
sekali. Benar kata bibi, badanku memang besar, tapi otakku oon. Meski
bibi sudah berkali-kali ’memberikan’ tubuhnya, aku tak kunjung
menjamahnya. Hingga akhirnya dia pun menyerah. Dibiarkannya aku bengong
melongo nonton bokep di TV sementara dia sibuk mengelus-elus kontolku.
Pembicaraan
kami juga mulai menyerempet hal-hal porno. Membuat paman tertawa saat
mendengarnya. ”Wah, keponakanku sudah mulai dewasa ya?” begitu komentar
dari paman. Dan bibi ikut tertawa sambil mencubit pipiku.
Suatu
hari, ketika aku tak sengaja menggaruk kontolku waktu mau mandi, bibi
berkata, ”Tuh lihat, pasti bulunya sudah banyak.” katanya sambil
mencolek paman.
”Masih belum ada kok, Bi.” jawabku malu-malu.
”Masa sih? Kan sudah mimpi?” katanya.
“Iya, kalau diperhatiin sih mungkin ada.” sahutku.
Paman tiba-tiba merangkulku dari belakang. “Kita buktiin.” katanya sambil hendak menarik handuk yang melilit di tubuhku.
Aku pun menahannya erat. ”Paman, jangan! Malu!” kataku agak marah.
”Malu sama siapa, Cuma ada bibimu disini.” dia terus memaksa.
Tapi
untung aku bisa erat memeganginya, hingga handukku tidak sampai
melorot. Paman akhirnya menyerah. ”Hahaha… Iya sih, bulunya memang masih
belum tumbuh.” katanya. Bibi hanya tertawa melihat tingkah laku kami.
Paman
memang pernah beberapa kali melihatku kencing. Kadang jika diajak
berenang, aku dan paman juga suka mandi bareng. Dan biasanya jika kita
membicarakan hal-hal porno, paman selalu mengingatkanku untuk tidak
bercerita ke orang lain. Aku selalu mengiyakannya.
Sampai
akhirnya, suatu hari, aku kembali terlibat percakapan dengan paman, Saat
itu bibi pergi ke rumah orang tuanya untuk membawakan oleh-oleh dari
paman. Entah siapa yang memulai, saat itu aku bertanya mengenai malam
pertama paman. Akhirnya paman cerita, bahkan dia seperti mengajariku
jika nanti aku menemukan wanita.
“Tapi bibi memang sexy ya, paman?
Terus kalau tidur, suka berantakan.” kataku tanpa rasa malu lagi.
Berantakan disini dalam arti baju bibi, bajunya suka menyingkap dan
melorot kemana-mana, hingga memperlihatkan kemontokan dan kemulusan
kulit tubuhnya.
“Iya, memang parah bibimu itu.” paman mengangguk
mengiyakan. ”malah pernah, waktu tidur, paman kerjai. Sampai pagi dia
gak sadar, gak tahu!” kata paman sambil tertawa.
“Masa sih, paman?” aku bertanya tak percaya.
”Iya,
waktu itu dia kan tidur menyamping, paman buka aja kainnya, terus
pelan-pelan paman masukin, gini!” paman mempraktekkan dengan memeluk
guling dan memajukan pinggulnya.
Aku cekikikan. ”Kan pake celana, paman. Gimana masuknya?” kataku.
“Bibi kamu itu kalau tidur jarang make celana. Panas katanya. Malah kadang BH juga gak pake.” kata paman terus terang.
Aku hanya mengangguk tanda mengerti.
“Eh, tapi nanti jangan kamu coba buktiin lho ya!” kata paman sambil tersenyum.
“Ya gak lah, paman. Mana berani aku.” sahutku.
”Tapi
paman suka kasian sama bibimu. Cewek biasanya kan dua kali seminggu
pingin gituan, tapi paman cuma bisa sebulan sekali.” kata paman, matanya
tampak menerawang. ”Bibimu pasti sange berat.” tambahnya.
“Masa sih, paman?” tanyaku baru tahu.
“Iya,
malah waktu awal nikah, tiap hari kita ngelakuinnya. Makanya, paman
suka kasian sama bibi kamu. Coba kamu perhatiin, pasti dia kadang suka
cemberut sendiri kan?” kata paman.
“Iya, paman. Kalau aku tanya
kenapa? Katanya, kangen paman.” jawabku. Dulu aku tidak tahu yang
dimaksud ’kangen’ yang bagaimana, sekarang aku baru mengerti.
“Tuh kan, sebenarnya itu tandanya kalau dia lagi pengen negntot!” kata paman vulgar.
“Iya, kasian bibi ya, paman? Coba kalau aku bisa bantu.” kataku bodoh.
“Hehe,
iya ya. Coba kalau kamu bisa bantu,” bukannya tersinggung, paman malah
santai menanggapi omonganku. “Tapi paman berterima kasih sekali, kamu
sudah nemani bibi selama ini.” tambahnya.
”Aku juga terima kasih, paman sudah bayarin sekolah aku.” aku menyahut.
Paman
menepuk pundakku. ”Itu sudah tugasku sebagai seorang paman. Eh,
ngomong-ngomong, gimana ya caranya supaya kamu bisa bantu bibi?”
Mendengar pertanyaannya, aku hanya bisa melongo.
“Gini
aja,” paman merubah duduknya, mendekat padaku dan berbisik, ”Kalau bibi
lagi cemberut, kamu gituin aja pas dia lagi tidur, hehehe… pasti gak
akan sadar, dan besoknya pasti langsung bisa senyum.“ paman melontarkan
ide gilanya.
”Iih, paman, gak berani ah.” kataku.
”Ayolah,
apa kamu gak pengen ngentotin bibimu? Enak banget lho rasa memeknya.
Peret dan anget banget.” Paman berkata semakin parah, terus berusaha
membujukku.
”Apa paman gak marah nanti?” pengen sih pengen, tapi aku masih takut, juga sungkan kepadanya.
”Hehehe…kalau orang lain, pasti langsung paman bunuh. Kalau kamu sih, gak apa-apa.” katanya sambil tertawa.
“Iya, paman gak apa-apa,” kataku. “Lha bibi, begitu bangun, pasti aku langsung dicekiknya.” aku bergidik.
“Ah,
gak bakalan bangun, percaya deh sama paman. Dulu sambil merem, bibi
megang burung paman. Terus dibantuin masuk ke lubang memeknya. Lalu bibi
ngorok lagi. Mungkin dipikirnya lagi mimpi. Kamu kan kalau mimpi juga
kayaknya bener terjadi kan? Kadang bangun, terus tidur lagi. Begitu juga
dengan bibimu.” kata paman meyakinkan.
Akhirnya, setelah didesak
terus, dan karena aku juga sudah nggak tahan, kuiyakan tawarannya. ”Ini
paman yang nyuruh lho, bukan karena aku yang pengen.” kataku sekali lagi
untuk memastikan.
Dan percakapan sore itu pun berhenti sampai disitu, karena bibi sudah keburu datang.
***
Aku
sedang asyik nonton bokep bersama bibi, dan seperti biasa, bibi
mengusap-usap tonjolan kontolku dari luar celana. Paman saat itu sedang
pergi ke rumah pak RT untuk mengurus KTP baru. Ketika itu aku bertanya.
“Bi, kok sekarang nggak pernah main lagi di depan TV sama paman?”
pancingku.
“Masih suka kok, tapi main di kamar. Takut ada yang ngintip.” kata bibi sambil tertawa. Dia menyindirku.
”Ah, bibi jahat. Hilang deh fantasiku buat onani.” kataku merajuk.
”Lho, kan sudah setiap hari dikocok sama bibi?” dia menatap wajahku. ”Kamu masih suka onani sendiri?” tanyanya tak percaya.
”Ya, iyalah, Bi. Anak seumurku kan lagi pengen-pengennya. Sehari lima kali juga masih kuat.” sahutku bangga.
”Hmm, pantes aja…” Bibi bergumam.
”Pantes apanya?” tanyaku tak mengerti.
”Burungmu jadi tambah gede!” dia tertawa.
”Masa sih?” perasaan dari dulu juga segini deh. ”Gede mana sama punya paman?” tanyaku penasaran.
”Ehm,”
bibi tampak berpikir sejenak. ”Gede punya pamanmu. Tapi kamu kan masih
kecil, kalau kamu sudah seumuran pamanmu, pasti punyamu lebih gede.” dia
menjawab diplomatis.
Aku ingin bertanya lagi, tapi sudah keburu
maniku muncrat duluan. Kalau sudah begitu, itu tanda kalau acara nonton
bareng harus diakhiri. Bibi segera mematikan TV dan menyimpan lagi kaset
bokep milik paman ke dalam kamar. Aku, dengan celana belepotan penuh
sperma, beranjak ke kamar untuk tidur siang. Tubuhku lemas, tapi puas.
Di luar, kudengar pintu depan dibuka seseorang. Paman pulang. Hmm, benar-benar timing yang pas.
***
Senin
subuh, paman berbisik saat bibi berada di kamar mandi. Paman saat itu
sudah siap-siap berangkat kerja. “Jagain bibi ya. Kalau bisa tolongin
dia kalau lagi cemberut.” katanya sambil tersenyum.
“Ih, paman.” kataku malu, meski juga sudah tak sabar menunggu saat-saat itu.
”Ingat,
jangan sampai ada yang tahu. Awas kalau sampai ada yang melihat, paman
akan balikin kamu ke ibumu, dan bilang kalau kamu nakal mau memperkosa
bibimu.” ancamnya.
”Beres, paman.” aku mengangguk sambil mengacungkan jempolku.
“Ada apa nih, bisik-bisik sambil senyum-senyum?“ tegur bibi yang baru keluar dari WC.
“Ini, keponakanmu ini tadi malam mimpi basah.” jawab paman berbohong.
“Masa? Mimpiin siapa?” tanya bibi antusias.
“Gak, Bi, paman bohong.” kataku.
Mereka hanya tertawa mendengarnya. Paman pun berangkat sambil diantar bibi sampai gang depan.
***
Hari
itu dan beberapa hari berikutnya, aku sibuk sekali, hingga lupa akan
janji kepada paman. Apalagi, mencari waktu yang pas juga sangat sulit.
Aku sekolah seharian, masuk pagi pulang sore. Begitu pulang, bibi sudah
bangun dari tidur siang. Kalo malam, kami tidur beda kamar. Dan bibi
selalu mengunci pintu kamarnya. Meminta langsung, aku masih takut.
Tapi
acara nonton bareng dan kocok mengocok masih tetap rutin kami lakukan.
Aku berniat untuk memancingnya saja saat itu, masih menunggu timing yang
pas.
Empat hari setelah kepergian paman, bibi terlihat murung. Ia
tidak banyak bicara, tapi kurasakan belaian dan kocokannya menjadi
lebih nikmat. Aku langsung ingat cerita paman, inilah saat yang aku
tunggu-tunggu. Bibi lagi sange berat.
Esoknya, setelah pulang
sekolah, kuajak bibi untuk nonton bareng. “Bibi rindu paman ya?” tanyaku
saat bibi mulai membelai dan mengelus-elus batang kontolku. Adegan di
TV juga sudah mulai panas. Ini adalah koleksi terbaru paman, film JAV
tentang seorang perempuan yang bermain gila dengan adik iparnya.
Mirip-mirip dengan kisahku.
”Iya sih,” bibi mengangguk. ”Tapi sebenarnya bukan pamannya yang bibi kangenin,” ia menggantung kalimatnya.
“Apanya, bi?” tanyaku meski sudah tahu jawabannya.
“Ah,
kamu pasti gak ngerti. Ini masalah orang menikah.“ rupanya dia masih
menganggapku bloon, yang sukanya nonton bokep sambil dikocokin.
Aku sekarang sudah lebih pintar lho, Bi! kataku dalam hati.
”Pokoknya ingin dipeluk aja.” kata bibi menambahkan.
”Dipeluk di ranjang ya, Bi?” tanyaku memancing.
Bibi tampak kaget, tapi lalu tertawa. “Hehehe… kamu tahu aja.” katanya. “Coba kamu bisa bantu bibi ya…” ia menatap wajahku.
”Bantu meluk? Aku bisa kok.” kataku yakin.
Bibi
hanya tersenyum mendengarnya. Dia mengocok penisku semakin cepat saat
film sudah setengah jalan. Hingga akhirnya aku pun melenguh dan… croot,
croot, croot! Pejuhku muncrat membasahi celanaku.
Bibi memandangi celanaku yang bernoda hitam. ”Tambah banyak aja manimu.” komentarnya.
”Iya, Bi. Nggak habis-habis ya, padahal sudah tiap hari dikeluarin.” sahutku bego.
Bibi tersenyum dan bangkit berdiri. “Eh, bibi mau keluar dulu, mau beli bakso. Kamu ikut gak?” tanyanya.
“Gak ah, Bi. Aku tunggu di rumah aja. Aku capek.” ini aku juga heran, sehabis moncrot, aku pasti capek.
Mengangguk mengerti, bibi pun melenggang keluar. “Kamu nitip apa, pangsit apa bakso?” tanyanya sebelum menutup pintu.
”Apa
aja, Bi.“ sahutku lirih, mataku sudah mulai berat. Aku ngantuk.
Bersandar di sofa, aku pun tertidur. Sementara di TV, film masih terus
berputar dengan ajibnya, mempertontonkan sang adik ipar yang sedang
menyetubuhi istri kakaknya dengan penuh nafsu.
***
Sekitar
setengah jam aku tertidur. Aku terbangun oleh suara adzan maghrib dari
musholla di ujung gang. Film sudah berhenti berputar, TV hanya
menampakkan layar biru bertuliskan merk DVD player milik paman. Menguap
dan melemaskan badan sebentar, aku pun bangkit dan beranjak pergi ke
kamar mandi untuk membersihkan diri. Bibi masih belum pulang.
Keluar
dari kamar mandi, kulihat sudah ada bakso dan martabak di meja tengah,
”Ayo makan, mumpung masih panas.” bibi menawarkan. Rupanya ia kembali
saat aku masih di kamar mandi.
Setelah berganti pakaian, kami pun
makan bersama. Sambil mengunyah, pikiranku penuh dengan rencana-rencana
agar bisa meniduri bibi malam ini. Tapi semuanya buntu, tidak ada yang
bagus. Hingga ketika nonton TV bersama, justru bibi yang malah
melontarkan ajakan. ”Nanti tiduran di tengah sini aja ya, temani bibi.
Di dalam panas, bibi nggak kuat.”
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Aku segera mengangguk penuh antusias. Kami kadang memang suka
berleha-leha di depan TV, tapi tidak sampai tidur seperti malam ini.
Kalau paman dan bibi sih sudah sering tidur disitu, bahkan main juga.
Kalau aku, sekali pun tak pernah. Baru malam ini. Dan beruntungnya,
bersama bidadari yang siap kunikmati tubuh indahnya.
Sambil menata
bantal dan kasur tipis, bibi bertanya. ”Mau nonton sambil dikocokin
lagi nggak?” dia menawarkan. Memang, biasanya aku dua kali sehari
diservis olehnya. Sore setelah pulang sekolah, dan malam sebelum tidur.
”Nggak
usah, Bi. Aku capek.” tapi untuk malam ini, terpaksa aku menolaknya.
Aku harus menghemat pejuhku untuk menyetubuhinya nanti. Biar
rangsangannya total dan maksimal.
”Tumben?” bibi tampak terkejut dengan perubahanku.
”Ehm,
mungkin karena banyak kegiatan di sekolah tadi.” aku berbohong. Saat
itu, kami sudah berbaring bersisian di depan TV. Bibi menonton acara
reality show tentang ajang pencarian jodoh. Aku sama sekali tidak
tertarik. Mataku lebih suka memandangi paha bibi yang putih mulus karena
kain dasternya sedikit tersingkap.
Atau dia sengaja
menyingkapnya? Karena meski sudah terangkat hingga hampir memperlihatkan
celana dalamnya, bibi diam saja. Tampak cuek dan tidak berusaha untuk
membetulkannya, membuatku pikiranku yang sudah ngeres jadi tambah kacau.
”Kamu kalau tidur suka bangun nggak?” tanya bibi.
”Nggak, Bi. Aku kalau tidur kaya orang mati. Malah kalau ada yang nampar, nggak kerasa.” kataku berbohong.
“Masa
sih?” bibi tersenyum gembira menemukan orang yang sejenis. ”Bibi juga.
Malah kalau ada yang merkosa, bibi nggak bakal tahu, hehehe…” katanya.
Aku
mengangguk. Selanjutnya kami ngobrol biasa, mulai dari kegiatanku di
sekolah hingga rencana masakan bibi esok hari. Tak terasa waktu sudah
menunjukkan pukul sepuluh malam. Kulihat bibi sudah tertidur, sementara
aku masih betah nonton bola liga Italy. Dia terlihat nyenyak dan pulas
sekali. Nafasnya teratur dan pendek-pendek. Inilah saatnya aku beraksi.
Tanpa
mematikan TV, kupandangi paha bibi yang sejak tadi sudah menggodaku.
Dengan hanya berbekal penerangan dari dapur, karena lampu ruang tengah
sudah kumatikan, aku bergeser ke bawah, menuju paha dan bokongnya.
Jantungku berdetak kencang, terus deg-degan saat melakukannya, takut
kalau bibi tiba-tiba bangun dan memergokiku. Tapi teringat kata-kata
paman, aku terus memberanikan diri.
Rasa penasaran menyergapku
saat kupelototi kulit pahanya yang halus dan mulus. Ada sedikit
bulu-bulu halus disana, juga urat nadi kehijauan yang semburat tak
merata. Kulit bibi tampak putih sekali, begitu bercahaya di tempat yang
setengah gelap itu. Aku menoleh, kulihat muka bibi ditutupi bantal dari
samping. Dia masih tidur dengan lelapnya.
Pelan, kusingkap
dasternya makin ke atas hingga aku bisa melihat… gila! ternyata bibi
tidak mengenakan celana dalam. Benar kata paman! Bisa kulihat bulatan
bokongnya yang bulat dan sekal, juga lubang anusnya yang mungil dan
menghitam, dan ini yang membuatku menahan nafas… lubang senggamanya yang
nampak mengintip malu-malu dari celah selangkangannya. Rambut hitam
keriting tumbuh rimbun disana.
Sungguh, jantungku berdegup sangat
kencang saat itu. Bila selama ini aku cuma melihat kelamin wanita dari
video-video bokep, sekarang aku menyaksikannya secara langsung. Dan
kalau aku beruntung, aku juga bisa merasakan betapa nikmat benda itu.
Ehm, aku jadi tak tahan. Cepat aku melepas celana. Kubebaskan kontolku
yang sudah menegang dahsyat untuk mencari mangsanya.
Kulihat bibi
masih tertidur pulas, mukanya masih tertutup bantal. Posisi bibi agak
menyamping, dengan badan sedikit melengkung. Kakinya agak ditekuk ke
belakang hingga seperti menonjolkan bagian memeknya. Sesaat kuletakkan
tanganku ke atas jembutnya, untuk memastikan dia benar-benar terlelap
atau tidak. Kuraba benda kasar itu dan kutarik-tarik beberapa kali.
Dan
ternyata benar. Bibi masih bernafas lembut, dan tanpa merubah posisinya
sedikit pun. Paman tidak berbohong, bibi kalau tidur memang kayak orang
pingsan. Berseru kegirangan, segera kuraba memeknya. Kali ini lebih
keras. Dan bibi tetap tidak bangun.
Rasa takutku hilang sudah,
berganti dengan gairah birahi yang menyala-nyala. Tanpa mempedulikan
apa-apa lagi, kucoba mencari lubangnya dengan ujung telunjukku.
Kutusuk-tusukkan tepat ke bagian tengah hingga aku menemukan belahannya.
Kusentuh pelan sekali daging basah yang berlipat-lipat itu. Warnanya
agak sedikit menghitam, mungkin karena sering kegesek kontol paman.
Tapi
ketika kukuak lebih lebar lagi, warna coklat itu berangsung berubah
menjadi merah hati, lalu merah tua, merah darah, dan akhirnya, tepat di
kedalaman lubangnya, kulihat lorongnya yang menganga berwarna merah
kekuningan seperti warna magma gunung berapi. Terasa basah dan sangat
lengket saat kutusuk dengan jariku. Juga hangat dan berkedut-kedut. Ehm,
pasti bakalan nikmat sekali kalau penisku yang masuk ke dalam sana.
Segera
kudekatkan batang kontolku ke dalam lubang itu. Posisi bibi yang
sedikit melengkung dan menyamping, memudahkanku untuk melakukannya.
Daster bibi yang tersingkap hingga ke pinggang, kurapikan agar tak
mengganggu gerakanku nanti.
”Inilah saatnya.” bertekad dalam hati,
aku berusaha mencari lubangnya. Tapi ternyata sangat sulit.
Berkali-kali kutekan, tetap tidak masuk-masuk. Ini aku yang goblok, atau
apa karena lubang memek bibi yang terlalu sempit ya, jadi tidak bisa
menampung penisku?
Masih kebingungan, aku terus menekan-nekan.
Berharap keberuntungan, siapa tahu bisa pas dan bisa masuk dengan
sendirinya. Tapi kontolku hanya bergeser naik turun, menggesek bibir
luarnya berkali-kali. Ugh, susah sekali. Bahkan sampai lima menit
berlalu, aku masih belum berhasil. Aku ingin sedikit melebarkan paha
bibi, tapi takut dia terbangun.
Tiba-tiba kulihat tangan bibi
bergerak, ia meletakkan satu tangan di paha atasnya. Aku sempat
cepat-cepat menarik kontolku, takut tersenggol. Tapi saat kulihat
setelah itu ia diam, aku kembali mendekatkan kontolku. Kembali aku
berusaha memasukkan ke lubang kelaminnya, tapi tetap sulit. Saat itulah,
tiba-tiba tangan bibi bergerak. Begitu cepatnya hingga aku tidak sempat
menghindar. Dengan lembut dia memegang kontolku, dan sambil melebarkan
pahanya, membimbing benda itu untuk memasuki lubangnya.
Aku tidak
melawan, kuikuti apa yang ia lakukan. Lagi-lagi paman tidak berbohong.
Bibi, masih sambil tidur, memberiku jalan untuk menyetubuhinya. Dengan
bantuannya, aku bisa menemukan lubang memeknya tanpa susah payah. Begitu
ujung kontolku sudah menancap, aku pun segera mendorong penisku
kuat-kuat.
”Heghhk!!!” aku melenguh keenakan saat batangku
terbenam seluruhnya. Nikmat kurasakan saat dinding vagina bibi
berkedut-kedut pelan, seperti memijat dan mengurut penisku begitu rupa.
Dengan
gerakan halus, aku mulai menariknya, lalu memasukkannnya lagi.
Menariknya lagi, memasukkanya lagi. Begitu terus hingga gesekan antara
batang kontolku dan dinding-dinding kemaluan bibi terasa begitu nikmat.
Memek bibi kurasakan semakin berdenyut, begitu juga dengan batang
kontolku. Semakin kupercepat genjotanku, semakin terasa kencang pula
kedutannya.
Aku yang baru pertama merasakan nikmat persetubuhan,
benar-benar terbuai. Begitu legitnya memek bibi hingga membuatku tak
bisa menahan diri lebih lama. Mungkin hanya sekitar sepuluh kali aku
memaju-mundurkan kontolku, sebelum akhirnya aku menggeram dan
memuntahkan cairan spermaku di dalam benda itu. Dibarengi denyut
kontolku yang menguras isinya, aku pun terkulai lemas. Capek tapi puas.
Sangat puas. Juga sangat senang karena sudah berhasil menikmati tubuh
wanita yang selama ini selalu menggodaku.
Tapi, apakah bibi puas
juga dengan permainanku yang cuma sebentar itu? Rasanya tidak. Paman
saja yang bisa bertahan lebih lama, kadang tidak bisa memuaskannya.
Apalagi aku yang cuma sepuluh tusukan tadi…
Ah, tapi tenang, masih
ada ronde kedua. Setelah beristirahat, aku pasti bisa bertahan lebih
lama. Malam masih panjang. Masih banyak waktu bagiku untuk memuaskannya.
Pelan-pelan kucabut kontolku yang kini sudah terkulai lemah. Rasa lega
dan nikmat luar biasa masih kurasa di kepala kontolku. Aku ambil taplak
meja, dan pelan kuusap memek bibi, kubersihkan dari lelehan spermaku.
Aku tak merasa takut sama sekali, karena kata paman, paling bibi merasa
mimpi basah.
Malam itu, kusetubuhi dia lima kali. Semakin lama,
aku semakin kuat bertahan. Bahkan di permainan yang kelima, saat hampir
mendekati subuh, kugoyang tubuh bibi hingga 15 menit. Bibi bahkan
sedikit melenguh dan mengimbangi goyanganku. Sepertinya dia ngelindur.
Puas
menumpahkan spermaku di dalam memeknya, cepat-cepat aku kembali ke
kamar setelah terlebih dahulu merapikan daster bibi dan menyeka cairanku
yang berceceran di selangkangannya.
***
Paginya, saat
ketemu di meja makan untuk sarapan, kulihat wajah bibi ceria sekali. Aku
jadi agak tenang, apa kata paman memang benar, pikirku. Tapi apa pantas
kupanggil dia paman setelah kutiduri istrinya yang cantik? Ah, tidak
apa-apa, toh dia yang menyuruh. Mengingatnya, hatiku jadi agak tenang.
Siangnya, sepulang sekolah, bibi sudah menungguku di depan TV. ”Nonton yuk, bibi punya kaset baru.”
Tidak
bisa kutolak ajakannya. Dan seperti biasa, dia mengelus dan mengocok
penisku dari luar celana. Benda ini sudah pernah masuk ke dalam memek
bibi, merasakan kerapatan dan kehangatannya! batinku dalam hati.
”Kok dikit amat?” tanya bibi curiga saat melihat maniku yang cuma menetes dua kali.
Semalam
sudah keluar banyak di memek bibi, ini cuma sisanya! Tapi tidak mungkin
aku berkata seperti itu. ”Nggak tahu, Bi. Kecapekan kali, tadi sekolah
aku main sepak bola.” itulah jawaban yang aku berikan.
Dan untungnya bibi percaya. Dia tidak bertanya apa-apa lagi.
***
Kira-kira
empat hari setelah persetubuhan pertamaku, kulihat bibi sudah mulai
cemberut lagi. “Bibi kangen pamanmu lagi,” katanya.
“Apa, Bi?” aku
sedikit tidak konsen dengan omongannya. Aku sedang mengejar orgasmeku
yang sebentar lagi sampai. Tak sampai satu menit, aku pun muncrat.
Setelah
membersihkan tangannya dengan tisue, bibi mengganti tayangan bokep di
TV dengan sinetron biasa. “Kemarin pas kangen gini, bibi mimpi ketemu
pamanmu, jadi rindu bibi sedikit terobati. Mudah-mudahan malam ini bibi
bisa mimpi ketemu dia lagi.” katanya penuh harap.
”Kemarin Itu aku, Bi…” jeritku dalam hati. “Emang mimpi apa, Bi?” aku bertanya, pura-pura tidak tahu.
“Mimpi basah,” sahutnya singkat.
“Emang perempuan bisa mimpi juga?” tanyaku jujur, aku memang tidak tahu kalau perempuan bisa mimpi juga.
“Emangnya
cuma lelaki aja.” bibi mengacak-acak rambutku. “Kamu kalau tidur, kalau
ada yang jahil, kerasa gak?” tanyanya kemudian.
“Nggak, Bi. Nggak kerasa sama sekali.” kataku, mempertahankan kebohonganku tempo hari.
***
Waktu
belum pukul sembilan, tetapi aku telah pura-pura terlelap depan TV.
Bibi mengikuti dengan berbaring di sebelahku. Setelah sekitar 15 menit,
tiba-tiba kurasakan usapan-usapan lembut di celah pahaku.
“Duh,
dasar! Kok sudah tidur sih?!” kudengar bibi berguman. Aku hanya diam
saja, tetap pura-pura tidur. Tak lama, kurasakan usapannya makin
mendekati daerah kemaluanku. Aku tetap diam. Saat itu bibi sudah
mematikan lampu ruang tengah, bahkan lampu dapur juga dia matikan,
sehingga keadaan sekarang gelap gulita. Hanya cahaya TV yang menerangi
apa yang sedang dia lakukan.
Usapan bibi makin berani, dia
sekarang meremas-remas kontolku. Kemudian kurasakan dia membuka
resleting celanaku, dan kembali dia meremas gundukan kontolku yang masih
terlindung celana dalam. Saat itu kontolku sudah mulai bangkit.
Sungguh, saat itu, aku hanya bisa pura-pura tidur. Aku harus tetap diam
karena sudah telanjur ngomong aku kalau tidur kayak orang mati.
Sampai
kemudian kurasakan tangannya mengeluarkan kontolku pelan, inilah untuk
pertama kali bibi memegang kontolku secara langsung. Rasanya nikmat
banget saat jemari lentiknya membungkus dan memegang erat batangku,
mengocoknya perlahan. Membuatku mendesis dan menggeram nikmat tertahan.
Kudengar nafas bibi juga sudah mulai berat. Ia menggumam-gumam, seperti
mengagumi ukuran dan panjang penisku.
”Gede banget… panjang… bikin ngilu… enak…” itulah sederet kata-kata yang kudengar keluar dari bibir manisnya.
Tiba-tiba
dia menghentikan kocokan. Aku yang sudah mulai naik, sesaat sudah ingin
protes. Biarlah samaranku terbongkar, yang penting aku bisa terus
menikmati belaian tangannya. Sampai kemudian kurasakan kontolku seperti
dihisap-hisap… oh, bukan! Kontolku dimasukkan ke dalam lubangnya yang
bisa menghisap. Lubang memeknya. Bibi telah menunggangiku. Dia menduduki
penisku yang sudah mengacung tegak ke atas hingga amblas seluruhnya,
masuk ke dalam lubang surgawinya.
Rasanya sungguh nikmat. Kalau
dulu aku yang aktif, sekarang gantian bibi yang aktif. Dengan cepat dia
segera menggoyang tubuhnya hingga membuatku tak kuasa untuk menahan
rasa. Geli, nikmat, dan enak bercampur menjadi satu, menjalar ke seluruh
tubuhku. Saat kurasa spermaku sudah hampir muncrat, bibi tiba-tiba
menggeram dan menduduki penisku dalam-dalam. ”Heghh!!!” dia memekik saat
dari dalam memeknya menyembur cairan hangat. Deras dan banyak sekali.
Kontolku rasanya seperti disiram air teh.
Aku yang terkaget-kaget,
menyusul tak lama kemudian. Tanpa melepas penis, kutembakkan pejuhku ke
mulut rahim bibi. Beberapa kali kedutan kurasakan sebelum akhirnya
berhenti dan membuatku lemas. Melenguh keenakan, bibi segera mencabut
memeknya dan kurasakan tangan bibi merapikan kembali celanaku, sebelum
akhirnya dia melangkah menjauh, meninggalkanku sendirian di ruang
tengah. Sedetik kemudian, kudengar pintu kamarnya ditutup dan dikunci
dari dalam.
Selesailah permainan kami malam itu. Sama-sama ingin, sama-sama puas.
Setiap
paman akan berangkat kerja istrinya aku pakai, untuk memuaskan hasrat
nafsu bibi yang menggebu-gebu. Paman selalu menitipkan bibi kepadaku.
Sejak
itu, kami tak ragu lagi untuk mengulangnya. Tidak ada lagi batas bibi
dan keponakan diantara kami berdua. Di usiaku yang baru berjalan 14, aku
telah merasakan nikmatnya dunia. Hampir tiap hari kami melakukannya.
Untuk Melihat Video Selengkapnya Klik Dibawah Ini :
Posted By : www.ubcbet.net


Comments
Post a Comment