Agen Slot Terpercaya - Sangat Mengesankan Punya Ayah Suka Seks
Agen Slot Terpercaya - Sangat Mengesankan Punya Ayah Suka Seks - Pertama kali aku ingin mengenalkan diriku sebagai Caroline. Aku sekarang
ingin menceritakan pengalaman pertamaku sehingga aku menjadi menyukai
berhubungan seks dengan laki-laki yang lebih tua 10-15 tahun dariku.
Agen Slot Terbaik - Aku adalah seorang wanita yang berusia 20 tahun di tahun 2000 ini.
Ibuku adalah asli orang Indonesia karena dia dilahirkan di Bandung
sedangkan ayahku adalah pendatang dari Shanghai sehingga aku bisa
berkomunikasi dalam banyak bahasa dan logat termasuk bahasa Mandarin dan
bahasa Sunda. Aku boleh berbangga karena banyak sekali cowok-cowok di
kampusku yang mengejarku bahkan ada yang terang-terangan ingin
menjadikanku sebagai pacar mereka mungkin disebabkan karena wajahku yang
seperti campuran Cecilia Cheung (mesti nonton FLY TO POLARIS jika ingin
tahu siapa dia) dan almarhum Nike Ardilla, tetapi aku menolak mereka
karena aku ingin menuruti semua perintah orang tuaku untuk memilih
kuliah daripada pacaran.
Di antara ayah dan ibuku, aku sangat mengagumi ayahku karena dia
termasuk orang yang gigih bekerja dari situasi yang tidak memiliki
apa-apa menjadi seseorang yang bisa dianggap cukup kaya dan mewah. Tentu
saja, aku sebagai anaknya bahagia dan salut kepada jiwa pantang
menyerah ayahku itu. Hal ini membuatku menjadi semakin akrab dan
menumbuhkan keinginan untuk mencari kekasih seperti ayahku. Mungkin hal
ini pula yang membuatku tetap single karena tidak ada laki-laki di
kampusku yang seperti dia. Sejujurnya rata-rata laki-laki di kampusku di
Universitas **** (edited) yang aku kenal tidak mempunyai prinsip
pemikiran masa depan bahkan ada beberapa dari mereka lebih menyukai
kenikmatan Narkoba yang membuatku menjadi benci dengan mereka.
Pada suatu hari menjelang hari raya, ibuku pergi bersama temannya
untuk pergi keluar negeri dan aku hanya di rumah bersama ayahku (oh ya,
sebelum aku lupa, kami sekeluarga memiliki agama yang berbeda dan aku
sendiri tidak tahu bagaimana bisa terjadi). Sebelum pergi ke luar
negeri, ibuku menyuruh ayahku untuk menjagaku dan dirinya sendiri.
Setelah kepergian ibuku ke luar negeri bersama temannya, ayahku
menjadi lebih sering mengurung diri dan dia jarang sekali keluar rumah
sampai suatu ketika, aku iseng-iseng mengintip kegiatannya sehingga
terjadi hal yang indah tersebut. Suatu sore, aku curiga sama ayahku
karena selama seharian dia tidak keluar dari kamarnya dan aku takut
terjadi apa-apa dengannya, sehingga aku memutuskan untuk mengintip dari
pintu kamarnya. Ketika aku membuka pintu itu sedikit demi sedikit, aku
sempat terbengong ketika mendengar dan melihat ayahku sedang menonton
Blue Film dengan posisi setengah telanjang. Kulihat dengan jelas bahwa
ayahku sedang mengocok dengan penuh ritme kemaluannya yang tidak begitu
terlihat olehku karena dia sedang membelakangiku.
Desahan ayahku yang bercampur oleh suara TV membuatku mengalami
perasaan gelisah (mungkin aku menjadi terangsang barangkali ya) sehingga
pintu menjadi terbuka lebar dan ayahku cepat-cepat menghentikan aksinya
dan mematikan TV. Dia sempat marah karena aku mengganggu aktifitasnya.
Aku merasa bersalah dan aku menanyakan apa yang bisa kuperbuat untuknya.
Akhirnya dia menjawab bahwa aku mesti dihukum dengan menuruti
kemauannya dan aku tentu saja menolaknya karena bagaimanapun dia adalah
ayah kandungku. Melihat penolakanku, ayahku tampaknya kesal dan hanya
mencuekiku saja dan kembali menonton film itu tanpa peduli bahwa anaknya
satu-satunya berada di dekatnya.
Selama film itu berlangsung, aku hanya diam saja dan aku
tampaknya sudah terbuai dengan film itu karena aku sempat menelan
ludahku berkali-kali dan aku merasakan celana dalamku sudah basah oleh
cairan kewanitaanku apalagi disaat aku kembali melihat ayahku mengocok
kemaluannya yang semakin lama semakin besar. Entah setan dari mana, aku
tiba-tiba saja memeluknya dari samping dan menempelkan payudaraku di
tangannya. Ayahku berhenti dan memandangku, dia tidak menolak, tidak
berkomentar apapun. Dari dekat wajahnya sudah tampak guratan-guratan
kulit tuanya, dihiasi kumis yang mulai tampak uban satu dua. Tampaknya
beliau salah tingkah harus bersikap apa, aku kan anaknya.
Beliau tampak memandangiku dan perlahan-lahan menggerakkan
tangannya menjamah payudaraku dan meremasnya perlahan sekali. Aku jadi
agak risih, meskipun tidak menolak juga. Dia menangkupkan telapak
tangannya di gunung itu dan menekannya sambil meremasnya. Caranya agak
lain tetapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang lain yang mulai
mengaliri tubuhku.
Untuk orang seumur ayahku kemaluannya mungkin terlihat masih
kokoh. Panjangnya mungkin sekitar 17 atau 18 cm, agak tebal kulitnya,
terus ada urat besar di sisi kiri dan kanan yang terlihat seperti ada
cacing di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kompak (ini
istilahku!), penuh dan agak berkerut-kerut. Garis lubangnya tampak
seperti luka irisan di kepala kemaluannya. Aku memegangnya perlahan,
terasa ada sedikit kedutan terutama di bagian uratnya. Lingkaran
genggamanku tampak tak tersisa memenuhi lingkaran batangnya. Ternyata
beliau memang hebat meski sudah berumur. Aku mulai menggerakkan tanganku
mengocok batangnya itu, saat itu yang terpikir segeralah beliau
ejakulasi terus menyelesaikan urusan lainnya.
Eh tidak tahunya setelah beberapa lama, ayahku bangkit dan
mendorongku perlahan-lahan sehingga berbaring di ranjang. Beliau bangkit
dan mengunci pintu. Aduh jangan.. jangan.. Entah terpengaruh apa, aku
sudah tidak ingat lagi batasnya. Ayahku perlahan-lahan menggerayangi
tubuhku dimulai dari payudaraku. Beliau menarik kaos ketat dan bra-ku ke
atas sehingga berada di atas gundukan payudaraku yang menyebabkan
payudaraku terlepas dan tanpa perlindungan. Jemarinya mulai
meremas-remas payudaraku dan memilin-milin putingnya. Saat itu separuh
tubuhku masih belum total terhanyut tetapi ternyata ayahku jagoan juga
dan mungkin karena alasan ini ibuku menyayanginya. Dalam waktu mungkin
kurang dari 10 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa
kutahan. Kulihat dia tersenyum. Dan menghentikan aktivitasnya.
Tiba-tiba aku merasakan sabuk celanaku dibuka. Belum selesai berpikir
aku merasakan hawa dingin AC di kulit pahaku yang artinya celanaku telah
lepas. Beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut di pahaku
yang berarti celana dalamku pun telah dilepas. Aku masih terhanyut oleh
rasa nikmat dari ayahku di payudaraku tadi dan tak tahu harus bagaimana.
Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari menjembeng (membuka ke
kiri dan ke kanan) bibir-bibir kemaluanku. Dan yang dahsyat lagi aku
merasakan sebuah benda tumpul dari daging mendesak di tengah-tengah
bentangan bibir itu. Aku mulai sedikit panik karena tidak mengira akan
sejauh ini tetapi tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku
sendiri yang memulainya tadi dan juga aku sangat mengagumi ayahku dan
sangat menyayanginya. Sementara itu batang kemaluan ayah kandungku mulai
mendesak masuk dengan mantap. Untuk orang seusia dia, boleh juga. Aku
mulai merasakan perasaan penuh di kemaluanku dan semakin penuh seiring
dengan semakin dalamnya batang itu masuk ke dalam liangnya. Sedikit
suara lenguhan kudengarkan dari beliau ketika seluruh batang itu amblas
masuk.
Aku sendiri tidak mengira batang sebesar dan sepanjang tadi bisa
masuk seluruhnya. Rasanya seperti terganjal dan untuk menggerakkan kaki
saja rasanya agak susah. Sesaat keherananku yang sama muncul ketika
melihat film biru dimana adegannya seorang cewek berada di atas cowoknya
dan bisa bergerak naik turun dengan cepat. Padahal ketika seluruh
batang kemaluan itu masuk, bergerak sedikit saja terasa aneh bagiku.
Beberapa saat kemudian ayahku mulai menarik perlahan batang kemaluannya
dan aku merasakan gesekan yang terasa agak geli di dinding lubangku.
Sedikit demi sedikit aku mulai merasa nyaman. Beliau terus bergerak dan
sayang belum sampai 10 gerakan tusuk dan tarik, beliau menarik batang
kemaluannya dan mengocoknya sendiri dan mengarahkannya ke meja yang
tidak jauh dari ranjangnya. Sementara aku sendiri masih dalam kondisi
menggantung, ketika semprotan-semprotan ganas itu terlontar seperti
semprotan pemadam kebakaran. Ayahku tampak melenguh-lenguh tertahan
ketika dari ujung kemaluannya menyemprot-nyemprotkan tak kurang dari 8
kali semprotan cairan putih kental, padahal tangannya hanya bergerak
mengocok sekali untuk dua kali semprotan. Tampak dahsyat sekali yang
dialami ayahku. Sementara aku sendiri betul-betul masih menggantung,
posisiku bahkan belum berubah, mengangkang di ranjang, sehingga dari
sebelah meja kerja ayahku pastilah selangkanganku tampak terlihat jelas.
Ayahku duduk di ranjang di depanku sambil memegangi kepala
kemaluannya yang tampak memerah. Diliriknya selangkanganku terus di
rebahkannya dirinya di sana. Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba di tengah
kegamanganku, kesadaran moralku muncul. Aku bangkit dan mengambil
pakaianku, memakainya cepat-cepat, merapikan rambut, terus duduk
menunduk. Dan berucap, “Aku minta maaf Pi, aku nggak sengaja!” Ayahku
hanya tersenyum kepadaku dan langsung menjawab ucapanku tadi, “Bantuin
aku membersihkan ini, ya!” dia mengambil kain dan tissue dan mulai
membersihkan sisa-sisa di atas meja dan sofa tadi. Aku mengambil tissue
dan mulai ikut membersihkan, sekali aku memandanginya dan tanpa sadar
beliau memandang balik dan kami saling berpandangan beberapa lama.
Setelah bersih aku berniat keluar kamarnya untuk mandi. Entah
kenapa, dia membukakan pintu, dan sebelumnya dia membisikkan kata-kata
ini. “Terima kasih anakku sayang, maaf Papi terlalu cepat, mungkin habis
kamu mandi aku bisa memperbaikinya, kamu mandi dulu gih dan Papi juga
mau mandi nih.” Hahh.. habis mandi? Ya.. ampun..! Masih dengan perasaan
menggantung, aku berjalan menyusuri ruang tengah itu dan menuruni tangga
untuk menuju ke kamar mandi untuk mandi. Setiap gerak langkah kakiku
menggesekkan perasaan geli dan entah apa yang membuatku kadang-kadang
menggelinjang sendiri. Mungkin karena sebenarnya aku pun menyimpan
keinginan itu di bawah sadar sehingga -sama seperti ayahku- ketika ada
penyaluran yang dibutuhkan adalah penyaluran total.
Ketika aku mandi, terlupakan sudah perasaan menggantung tadi,
meskipun kadang-kadang kalau secara tidak sengaja saat mandi, menyabuni
selangkanganku terasa begitu nyaman. Tiba-tiba saja rasa was-was muncul
di hatiku, jangan-jangan aku mengidap kelainan (maksudku ayahku kan
hampir 20 tahun lebih tua dariku, dan aku bernafsu padanya!). Atau
mungkin hanya karena ‘itunya’ Ayahku yang tampak mempesona apalagi aku
baru pertama kali merasakan kemaluan laki-laki (aku kehilangan perawan
ketika waktu aku masih kecil karena aku suka sekali naik sepeda dan aku
pernah jatuh dari sepeda sehingga hal ini merusak perawanku dan itu
mungkin kenapa aku tidak mengeluarkan darah perawan ketika berhubungan
dengan ayahku). Sampai suatu saat aku merasakan beberapa jemari meraba
payudara dan paha bagian dalamku. Aku segera tersadar tapi ayahku telah
merangkul anak kandungnya sendiri secara erat dari belakang. Entah
bagaimana aku telah berada di pangkuannya di atas toilet bowl. Pantatku
terasa sedang menduduki sesuatu yang keras.
Sementara tangan satunya sedang mengelus bagian paha dalamku
hanya sekian centimeter dari area kemaluanku. “Pi.. jangan.. Tolong..
Pi!” Entah bagaimana kedengarannya kalimatku tadi, bernada menolak atau
malah terhanyut. Yang pasti sentuhan di kedua titik tererotis dari
tubuhku itu, seperti mengalirkan daya penghanyut yang dahsyat. Jadi
sementara sebagian akalku menolak perbuatan papiku itu, seluruh tubuhku
yang lain mulai terhanyut total. Ketika dari bibirku keluar
kalimat-kalimat penolakan dan tanganku mulai bergerak memberontak,
seluruh bagian yang tubuh yang lain malah pasrah dan terutama pahaku
yang mulai terasa kesemutan mengiringi rasa seperti ingin kencing dari
selangkanganku setiap kali jemari papiku menyapu seluruh permukaan
kemaluanku yang tertutup oleh bulu-bulu pubic-ku yang banyak dan halus.
Akhirnya kira-kira seperempat jam kemudian seluruh tubuhku hanyut
luruh, bahkan dari bibirku keluar suara mendesis dan rengekan manja
setiap kali ayahku berbuat sesuatu di bagian tubuhku tadi. Mungkin
kelebihan dari mereka yang telah berumur seperti ayahku di antaranya
ialah kesabarannya dalam melakukan seluruh proses hubungan intim, tidak
asal ingin segera menyelipkan itunya saja seperti kebanyakan anak-anak
muda dan hal ini yang akhirnya membuat saya menjadi tergila-gila
bersenggama dengan orang yang berusia seperti ayahku. Aku menyandarkan
punggungku di atas dadanya. Sementara itu terasa bagiku sebuah silinder
panjang, keras dan hangat, berdenyut-denyut di antara kedua bongkahan
pantatku.
Ayahku menghentikan aktivitasnya dan berbisik lagi, “Kita ke
kamar saja ya!” Beliau mendorongku berdiri dan merangkulku, terus
menuntunku masuk ke dalam kamarku yang letaknya bersebelahan kamar mandi
itu. Aku seperti tak berdaya mengikuti apa saja yang dilakukannya. Ada
dorongan yang sangat kuat mengalahkan segala energi penolakanku.
Dibaringkannya aku ditepi ranjang, separuh paha dan kakiku masih
terjuntai di lantai sehingga hanya punggung sampai pantat saja yang
berbaring di ranjang. Entah bagaimana rasanya laki-laki melihat seorang
wanita telanjang bulat dalam keadaan pasrah (siap disenggamai) berbaring
dalam posisi seperti posisiku saat itu? Yang pasti aku melihat Ayahku
seperti tertegun beberapa saat memandangiku. “Kamu memang sempurna
anakku sayang.” Aku melihat beliau melepas kaos oblongnya sehingga dapat
kulihat tubuh ceking putih itu. Dalam keadaan seperti itu kulihat bahwa
dari balik celana pendeknya tampak kemaluannya sudah menegang terlihat
dari mencuatnya batangnya itu sehingga terlihat menonjol. Kemudian
dibukanya juga celana pendeknya itu sehingga terlihat ayunan batang
panjang dan besar itu tampak memerah kepalanya tegak mengacung ke depan
di antara kedua pahanya yang ceking.
“Pii..” aku bahkan tidak tahu memanggilnya untuk apa. Sambil
berlutut mendekatkan tubuhnya di antara pahaku, ayahku berbisik, “Sstt..
kamu diam saja, nikmati saja!” katanya sambil dengan kedua tangannya
membuka pahaku sehingga selangkanganku terkuak tepat menghadap
pinggulnya karena ranjangnya itu tidak terlalu tinggi. Itu juga berarti
bahwa sekian saat lagi akan ada sesuatu yang akan menempel di permukaan
kemaluanku. Benar saja, aku merasakan sebuah benda tumpul menempel tepat
di permukaan kemaluanku. Tidak langsung diselipkan di ujung lubangnya,
tetapi hanya digesek-gesekkan di seluruh permukaan bibirnya, membuat
bibir-bibir kemaluanku terasa monyong-monyong kesana kemari mengikuti
arah gerakan kepala kemaluannya. Tetapi pengaruh yang lebih besar ialah
aku merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur
tubuhku dimulai dari titik gesekan itu. Beberapa saat ayahku melakukan
itu, cukup untuk membuat tanganku meraih tangannya dan pahaku terangkat
menjepit pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainannya.
Ayahku menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala
kemaluannya tepat di antara bibir labia mayora-ku dan terasa bagiku
tepat di ambang lubang kemaluanku. Aku benar-benar menanti tusukannya.
Oh.. God.. please! Tidak ada siksaan yang lebih membuat wanita menderita
selain dalam kondisiku itu. Yang wanita dan yang sudah pernah melakukan
senggama dan menikmatinya, pasti setuju, ya nggak! Akhirnya ayahku
benar-benar mendorongkan pinggulnya mendorong terkuaknya lubang
kemaluanku oleh batang kemaluannya. Sedikit demi sedikit aku merasakan
terisinya ruangan dalam liang kemaluanku. Aku benar-benar tergial ketika
merasakan kepala kemaluannya mulai melalui area G-spot-ku, diikuti oleh
gesekan dari urat-urat batangnya setelahnya. Aku hanya mengangkang
merasakan desakan pinggul ayahku membuka pahaku lebih lebar lagi.
“Papi..!” lagi-lagi hanya kata itu yang terucap dari bibirku. Sedikit
bergetar aku ketika mengucapkannya. Saat itu seluruh batang kemaluan
ayahku telah amblas masuk seluruhnya di dalam liang kemaluanku. Tanpa
sengaja aku terkejang seperti menahan kencing sehingga akibatnya seperti
meremas batang kemaluan ayahku.
Beliau bahkan belum lagi bergerak. “Aduhh.. Caroline sayang..
kamu.. hebat sekali!” Ayahku ikutan menegang, mungkin akibat kejangan
tadi. Beliau mencengkeramkan kedua tangannya di pinggulku, terasa
sedikit kukunya di ujung kulitku. Tapi itu hanya rasa yang kecil saja
dibandingkan apa yang terjadi tepat di tengah-tengah tubuhku saat itu.
Kakiku masih menjuntai di lantai karpet kamarnya itu. Tanganku memegangi
lengannya yang mencengkeram pinggulku. Aku mencakarnya ketika beliau
menarik kemaluannya dan belum sampai tiga perempat panjangnya kemudian
menghunjamkannya lagi dengan kuat. Aku nyaris menjerit menahan lonjakan
rasa nikmat yang disiramkannya secara tiba-tiba itu.
Begitulah beberapa kali ayahku melakukan hujaman-hujaman ke dalam
liang terdalamku tersebut. Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa
nikmat yang amat banyak ke tubuhku. Aku begitu terangsang dan semakin
terangsang seiring dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang
kemaluanku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat batang kemaluan
ayahku yang seperti akar-akar beringin yang menjalar-jalar itu. Mungkin
karena tenaganya yang mungkin sudah tidak sekuat masa mudanya. Biasanya
kalau orang bersenggama itu semakin lama semakin cepat gerakannya,
ayahku malah semakin melambat sampai pada sebuah irama gerakan yang
konstan tidak cepat dan tidak lambat. Tapi anehnya justru bagiku aku
semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit kemaluannya.
Pada tahap ini, seperti sebuah tahap ancang-ancang menuju ke sebuah
ledakan yang hebat, aku merasakan pahaku mulai seperti mati rasa seiring
dengan semakin membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku.
Aku mulai mengejang, kedua tanganku meremas-remas lengannya
sesekali mencakarnya, disertai jatuhnya tetesan keringat di dada dan
perutku. Aku mulai tidak terkontrol lagi, suaraku terdengar keras
sekali. Aku tak perduli lagi. Aku mulai secara tak sadar seperti
memerintah ayahku. “Cepatlah.. hh.. Papi.. Caroline sayang sama Papii!”
sambil berkata demikian aku bangkit dari berbaringku dan menjepit
pinggul ayahku dengan kedua pahaku sementara betisku kuangkat. Aku
meraih pinggul ayahku dan menggerak-gerakkannya secara kasar. Ayahku
seperti kedodoran menanganiku saat itu, beliau terengah-engah mengikuti
gerakan tanganku di pinggulnya. Tapi seperti kuceritakan di atas, beliau
luar biasa sekali saat itu. Bayangkan ini sudah hampir 20 menit, beliau
terus bergerak kontinyu sampai pada suatu titik, “Ahh.. Pii.. hh..”
(aku tidak bisa bercerita lagi pada bagian ini, kakiku mengejang,
pinggulku terasa kesemutan rasa nikmat, nafasku memburu cepat, detak
jantungku terasa cepat sekali, sementara di bawah sana aku terus
merasakan gesekan-gesekan kuat dan mantap dari ayahku).
Ketika usai, aku masih berbaring di ranjang tetap dengan posisi
seperti tadi, tapi kali ini lemas sekali. Lemas yang sangat melegakan
tubuhku, seperti separuh tubuhku telah menguap. Aku memandangi
langit-langit dan masih tetap belum bisa berpikir jernih. Tiba-tiba aku
mendengar bisikan dan sentuhan kulit basah di sampingku. “Caroline
anakku, bantuin Papi ya.. menyelesaikan ini!” Aku melirik ke samping dan
yang pertama kulihat sebuah batang mengkilat yang tegak mengacung ke
atas, separuh pangkalnya tergenggam oleh tangan keriput ayahku. Beliau
berbaring tepat di sampingku dan kelihatannya masih belum ejakulasi.
Gila apa ini? Ayahku menarik tangan kiriku dan menggenggamkannya di
batang kemaluannya itu dan mengarahkannya untuk menggerak-gerakkan
kocokan. Aku mengikuti saja, tubuhku masih lemas sekali termasuk kedua
tanganku. Jadi kugerakkan saja sekuat tenaga tangan kiriku
menggerak-gerakkan kocokan dengan tangan kiri, pandanganku masih ke atas
langit-langit. Aku tidak perduli, pokoknya aku seperti menggerakkannya
dengan cepat, hingga tak berapa lama kemudian, aku merasakan raupan
tangan di dadaku, dan beberapa saat kemudian suara erangan disertai
tetesan cairan hangat dan lengket di perut dan seluruh dadaku. Sementara
itu di telapak tangan kiriku aku merasakan seperti pompaan-pompaan
cepat dan kuat yang mengalir dengan cepat dari dalam tubuh ayahku keluar
dengan kuat dari ujung lubang batang kemaluannya yang karena gerakanku
mengocok, mengarahkan semprotan ke atas dan jatuh di atas tubuhku.
Sensasi dari rasa hangatnya aku rasakan di seluruh kulit tubuhku,
diperkuat dengan suara erangan tua dari mulutnya.
Setelah ia klimaks, kami akhirnya sama-sama tertidur dan saya
tertidur di atas dadanya yang masih bidang, sungguh pengalaman yang
tidak terlupakan. Kami akhirnya selalu melakukan perbuatan itu sampai
sekarang apalagi mamiku masih berada di luar negeri sekarang jadinya
kita bebas melakukannya. Papi, jika papi baca ini, Caroline sayang papi.
Posted By : www.tugupoker.net


Comments
Post a Comment